Buat kamu yang berusia 20-an, sebaiknya baca ini yah..

sebelum 30 - 1 (1)

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca blog Fee. Taste. Style khususnya perempuan yang lagi seru-serunya menikmati masa penuh kejutan di usia 20-an. Beberapa bulan lagi usia saya menanjak ke angka 30 (ehmmmm berumur banget yah). Fase usia dewasa yang katanya mulai serius mikirin hidup #tsaelah. Mungkin ada benernya juga kata orang-orang itu, karena di titik ini saya menanyakan “Udah ngapain aja sih wed selama ini?”. Dari pertanyaan itu, saya ketemu jawaban yang malah bikin saya nyinyir begini…

“Yaelah coba gue tahu ini lebih awal.”

Makanya dari itu pengen banget saya berbagi pengalaman ke kalian yang lagi happy-happy-nya. Siapa tahu lewat tulisan ini kamu jadi lebih mengerti apa yang sebaiknya kamu lakukan.

Baca lebih lanjut

Jadi karyawan atau freelance? Baca dulu pengalaman ini agar siap menghadapi resikonya.

 

Processed with VSCOcam with a6 preset

It’s just a phase, smiling. 

 

Saya sedikit ingin bercerita latar belakang pengalaman untuk tulisan ini. Minggu lalu saya belajar hal baru sebagai freelance. Sudah hampir 5 bulan saya berstatus freelance, dan selama itu juga saya merasakan suka duka menjadi orang yang mengharapkan pekerjaan dari orang lain. Untuk pertama kalinya selama saya bekerja di bidang audio visual, baru kali kemarin saya mengerti rasanya di PECAT DARI PROJEK oleh producer dengan alasan saya kurang kompeten. Kalimat dari producer yang bilang “Saya tidak cocok untuk projek ini” menjadi bahan evaluasi untuk saya setelah menghabiskan waktu selama 1 bulan untuk meriset dan merangkai cerita untuk program TV. Sekedar informasi, projek yang saat itu saya kerjakan adalah Program TV Feature dokumenter dengan tema bisnis.

Saya dapat informasi ini dari seorang teman, dia merekomendasikan saya sebagai scriptwriter untuk projek temannya. Setelah bertemu produser dan memberikan karya yang pernah saya buat serta dijelaskan tentang program yang akan berjalan, dia mengajak saya bergabung menjadi bagian timnya. Walaupun saya belum pernah membuat karya dokumenter bertema bisnis tapi tantangan itu saya terima karena saya yakin semua bisa dipelajari.

Namun seiring waktu berjalan nampaknya Produser melihat hal lain. Setelah saya mengirimkan storyline dan juga beberapa pertanyaan untuk narasumber dia melihat saya kurang cocok untuk projek ini. Bukan cuma pacaran yang punya status “gantung” dipekerjaan pun bisa begitu. Selama dua minggu saya di “antepin” baik dari produser ataupun tim yang lain. Di masa menunggu itupun saya bertanya-tanya  “Apakah projek ini bermasalah?” atau “Ada masalah dengan saya?”. Sampai akhirnya ada whaspp dan saya diminta untuk bertemu di kantor……dan (simsalabim) saya diberhentikan.

Saya jadi teringat perkataan seorang kawan yang sangat saya hormati “Wed lo harus liat dunia di luar kantor. Di sini kerja nyaman banget buat lo, tapi di luar sana lo harus siap beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.” Tadinya saya gak ngerti apa yang dia maksud tapi rasanya sekarang saya paham.

Tidak saya tidak marah ataupun kecewa, ditulisan ini saya sekedar ingin mencerna dan mengevaluasi pengalaman yang telah terjadi. Baiklah saya akan membuat perbandingan rasa yang saya dapat pada saat di kantor dulu dengan pengalaman saya bekerja dari rumah.

Baca lebih lanjut

4 hal yang membekas di hati, Juni 2016.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bulan Juni gak terasa sudah berganti ke Juli. Waktu 30 hari rasanya kok singkat banget apalagi Juni tahun ini berbarengan dengan bulan Ramadhan. Gak cuma Ramadhan di bulan Juni juga bertepatan dengan ulang tahun ibu kota Jakarta. Jadi sudah sewajarnya kalo bulan Juni rasanya sangat seperti perayaan festival (untuk saya), ramai, riuh dan menyenangkan.

Selain itu secara personal ada beberapa pengalaman yang harus saya jadikan pelajaran, khususnya terkait dengan pekerjaan. Maklumlah ini tahun pertama saya berstatus sebagai freelance. Menghadaapi bulan Ramadhan sebagai freelance, ternyata penuh dengan adrenalin.

1. Sale dimana-mana

Buat yang ingin memaksimalkan pengeluaran shopping, sebaiknya tahan hasrat untuk sampai di bulan Ramadhan dan Ulang tahun Jakarta. Sunggu sepanjang saya survey ke mall alias cuci mata di bulan ini, kata Sale gak lepas dari pandangan mata. Sale mulai dari 20% bahkan 80% malah ada lagi yang ditambahin lagi sale-nya. Udah sale di sale-in lagi. Ini gak cuma berlaku belanja di mall tapi juga belanja online. Semua brand seperti berlomba memberikan sale untuk memancing pembeli di bulan festival Juni. Apalagi dalam rangka ulang tahun jakarta, pememkot melaksanakan juga Jakarta Great Sale di hampir seluruh mall Jakarta dan juga Pekan Raya Jakarta.

Tapi harus tahu juga mana produk yang beneran sale atau memang harganya sudah di mark up. Biasanya saya suka scanning harga di beberapa toko favorit di bulan-bulan biasa. Jadi saya tahu harga normal produk itu dan pada saat bulan Sale saya akan ngecek balik, apakah barang itu beneran di sale atau sekedar mark up dari harga normal. Meskipun banyak kata sale tetap harus jadi pembeli yang cerdas yah. So sebaiknya tahan-tahan deh hasrat belanja sampai bulan Juni.

2. Banyak info lomba

Masih berkaitan juga dengan Bulan Ramadhan dan Ulang Tahun Jakarta selain banyak sale banyak juga lomba-lomba yang diselenggarin sama brand dan juga mall. Baik itu lomba nulis, lomba #ootd instagram, lomba foto, lomba quote dan jenis lainnya. Biasanya info lomba itu bisa didapat online lewat social media. Dengan info lomba di social media jangkauan informasi lebih luas untuk si penyelenggara. Hadiahnya pun lumayan banget, mulai dari voucher belanja, coupon travel, produk, uang tunai bahkan travelling ke luar negeri.

Seperti yang saya alami di Juni kemarin. Berhubung saya tipe yang doyan lomba dan hadiah, saya ikutan lomba Run Hijab Style Senayan city X Debenhams Indonesia bersama Yulia dan Rima. syukurnya dapet Juara 1 dong (hehehe). Hadiahnya lumayan loh, voucher belanja 1,5 juta (dibagi 3 yah) kan lumayan duit buat beli baju lebaran jadi masih ada lebihan (hehe).

3. Macet Jakarta berlebihan di minggu kedua dan ketiga

Jakarta macet emang hal yang biasa yah, cuma kalo macetnya gak kenal waktu itu hal yang tidak biasa setidaknya buat saya. Biasanya macet Jakarta kan bisa ditebak waktunya, nah bulan Juni kemarin prediksi macet berdasarkan waktu jadi gak berlaku. Apalagi di minggu kedua dan ketiga. Bisa jadi ini karena budaya “Buka Puasa Bersama” kaum urban Jakarta. Kita harus pinter memprediksi kondisi jalan dan milih moda transportasi yang cepet kalo gak mau berakar di jalanan (hehehe).

Transportasi online motor masih jadi pilihan untuk saya menghadapi Jakarta. Alasannya gak lain karena murah dan cepat. Kalo kamu pilih kendaraan apa?

4. Siapin dana cadangan

Yes, ini penting buat saya yang bekerja dari rumah alias gak punya bos dan kantor. Saat saya masih ngantor sering denger cerita dari temen yang freelance kalo saat bulan puasa biasanya sepi kerjaan. Yang artinya sepi pemasukan juga. Tadinya saya kurang ngerasa’ne maksudnya gimana. Tapi setelah ngalamin sendiri saya ngerti juga (haha).

Sebagai pekerja yang berharap orderan dari klien, saya harus pinter mengatur pemasukan. Selama bulan puasa, jarang banget ada order kerjaan. Mungkin bisa jadi karena produksi promosi/ advertising klien di bulan ini rada woles (setidaknya yang saya rasakan). Mereka biasanya sudah nyipain materi promo sebelumnya untuk ditayangkan saat bulan Ramadhan.

Karena menganut prinsip “Rejeki ada yang ngatur” & “Tenang nanti ada kerjaan lagi” saya jadi kurang berhati-hati mengatur keuangan bulan Juni (hahaha). Pengeluaran untuk gaya hidup tidak diimbangin dengan pemasukan kerjaan. Walhasil saya jadi deg-degan di minggu keempat apalagi mau lebaran ye kan, kok ya gak ada modal (hahaha).

Yes inilah pelajaran bulan Juni saya. Selamat datang Juli, please be nice.